TPS 3R Rawasari

Tempat Pengolahan Sampah dan Pelatihan 3R Skala Kawasan di Rawasari, Jakarta Pusat Provinsi DKI Jakarta

Lebih Lanjut

 
 

TPS 3R Rawasari dibangun pada tahun 2000 sebagai salah satu kegiatan pengelolaan sampah untuk tahap jangka menengah. Pembangunannya dibiayai oleh dana APBD Provinsi DKI Jakarta cq. Dinas Kebersihan dan dilanjutkan dengan dana APBN Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Dana ini diperuntukkan sebagai dana operasional riset, pendidikan dan pelatihan dalam rangka kegiatan pengelolaan sampah kota secara terpadu menuju zero waste dengan pendekatan 3R di skala kawasan.

TPS 3R Rawasari melayani  RW 01 dan RW 02 di Kelurahan Rawasari Kecamatan Cempaka Putih Timur dengan KK lebih kurang 1000. Kapasitas olahannya mencapai 2 – 4 ton/hari. Kegiatan utama pengolahan di TPST ini adalah pengomposan yang pemilahan sampah organiknya  langsung dilakukan di TPS 3R juga.. Selain pengomposan yang bisa menampung sedikitnya 2 ton sampah per hari, di TPS 3R ini juga dilakukan pemilahan sampah anorganik yang terdiri dari plastik, kertas, kaleng, dan sampah B3 dari rumah tangga. Sampah kemasan kemudian didaur ulang menjadi aneka produk seperti tas, dompet, payung dan sebagainya.

Sebagai gambaran, TPS 3R yang berlokasi di lahan 500 meter persegi ini memakan investasi  Rp 100 – 500 juta/ton dengan biaya operasional antara Rp 100.000 – Rp 500.000/ton. TPS 3R saat ini mempekerjakan 8 orang pekerja dan seorang pengawas, untuk kegiatan operasional sehari-hari seperti memilah, mencacah sampah organik, menyiram dan membolak-balikkan, mengayak, dan mengemas kompos yang telah jadi.

Mekanisme & Operasional Pengomposan di TPS 3R Rawasari

1. Gerbang Masuk

Gerbang masuk adalah tempat gerobak sampah dari area pelayanan masuk ke lokasi TPS. Tujuannya adalah agar TPST hanya menerima sampah dari daerah pelayanan saja sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan dan disepakati bersama antara TPS 3R Rawasari dan daerah layanan

2. Area penyortiran/pemilahan serta pencacahan sampah

Sampah yang masuk terlebih dahulu di pilah menurut jenisnya dan dicacah di area ini. Idealnya pemilahan dilaksanakan dari sumber sampah, namun pada kenyataanya bukan hal yang mudah untuk membiasakan pemilahan dengan baik, maka dari itu sebagai projek percontohan, TPS 3R Rawasari melaksanakan pemilahan sampah rumah tangga yang dibagi menjadi 4 Kategori yaitu:

  • SAMPAH   MUDAH   MEMBUSUK   (untuk   dikomposkan)
  • SAMPAH   YANG   MASIH DAPAT   DIMANFAATKAN   (untuk   didaur   ulang)
  • SAMPAH   RESIDU   (untuk   dibuang   ke TPA)
  • SAMPAH   B3   (Bahan   Beracun   dan   Berbahaya)

3. Area Penimbangan

Kegiatan penimbangan dilakukan setelah proses pemilahan selesai dilakukan agar dapat diketahui volume sampah yang masuk setiap jenisnya

4. Area Pengomposan

Area pengomposan ini merupakan tempat proses pengomposan sampah mudah membusuk dari hasil pemilahan dengan luas ± 500 m², Saat ini volume sampah mudah membusuk yang masuk dalam tumpukan pengomposan ini  , dengan lama proses pengomposan sekitar 7 minggu.

5. Area Pengayakan

Area ini merupakan tempat penyaringan hasil sampah yang sudah siap menjadi kompos halus .

Prosedur Standar Operasional


PSO TPST Rawasari

Profil Masyarakat

Profil Masyarakat di Lingkungan TPS 3R Rawasari

1. Gambaran Umum Lingkungan

Peta Pelayanan TPS 3R Rawasari.


Tempat Pengolahan Sampah 3R Rawasari berlokasi Kelurahan Cempaka Timur, Kecamatan Cempaka Putih, tepatnya di RW 01. Namun cakupan pelayanan TPST ini adalah RW 01 dan RW 02. Bagian ini akan menggambarkan kondisi masyarakat dan lingkungan RW 01 dan RW 02  Kelurahan Cempaka Putih Timur, Kecamatan Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

1.1.   RW 01

Kawasan RW 01 Utara berbatasan langsung dengan RW 04. Sisi Barat RW ini dibatasi Jalan Cempaka Putih Barat 26, Sementara sisi Timur berbatasan dengan Jalan Rawasari Timur. Sisi Selatan-nya berbatasan dengan Jalan Percetakan Negara.

RT 01 terdiri dari 10 RT, dengan jumlah KK kurang lebih 527 KK.[1]  Seperti halnya RW-RW lain di Kelurahan Cempaka Putih Timur, lebih dari 60% warga RW 01 adalah pendatang dengan beragam suku. Kelompok suku Jawa merupakan kelompok dominan (+ 60%) dan sisanya berasal Sunda, Betawi, Batak, Manado, Madura, Kalimantan, Sulawesi,Padang, Aceh, dan Tionghoa.

Tata guna lahan di wilayah RW 01 seperti terekam dalam penelusuran lapang menunjukkan, lebih dari 85% wilayahnya merupakan lingkungan permukiman yang padat. Sisanya, kurang dari 15%, merupakan fasilitas umum (jalan raya, jalan lingkungan, Ruang Terbuka Hijau/RTH, saluran terbuka) dan fasilitas sosial, utamanya masjid dan musholla. Sementara itu, dari sisi kepemilikan tanah, sebagian besar sebagian besar, lebih dari 90%, kepemilikan tanah di RW 01 berstatus SHM. Sementara sisanya lahan dengan status HGB, sekitar 10%.

1.2.      RW 02

Kawasan RW 02 Utara berbatasan langsung dengan Jalan Cempaka Putih Tengah. Sisi Barat RW ini dibatasi Jalan Cempaka Putih Raya, sementara sisi Timur berbatasan dengan Jalan A.Yani. Sisi selatan berbatasan dengan Jalan Percetakan Negara.

Lebih banyak dari RW 01, jumlah RT di RW 02 terdiri dari 18 RT, dengan jumlah KK kurang lebih 905 KK.[2]  Seperti halnya RW 01, lebih dari 60% warga RW 02 juga adalah pendatang dengan beragam suku. Kelompok suku Jawa adalah kelompok dominan (+ 70%) dan sisanya adalah Sunda, Betawi, Batak, Manado, Madura, Kalimantan, Aceh, dan Tionghoa.

Tata guna lahan di wilayah RW 02, seperti terekam dalam penelusuran lapang, menunjukkan lebih dari 75% wilayahnya merupakan lingkungan permukiman yang padat. Sisanya, kurang dari 25%, merupakan fasilitas umum (jalan raya, jalan lingkungan, dan Ruang Terbuka Hijau/RTH, saluran rerbuka) dan fasilitas sosial, utamanya masjid dan musholla. Sementara itu dari status kemilikan lahan, sebagian besar (lebih dari 70%) kepemilikan tanah di RW 01 berstatus SHM. Lahan dengan status HGB sekitar 20%.Sementara sisanya, sekitar 10% adalah tanah yang bersertifikat Girik.

2. Sistem Pengelolaan Sampah

2.1.     Pengelolaan Sampah Formal

Diperkirakan jumlah sampah yang diproduksi per harinya 15 m3. Sampah warga didominasi oleh sampah mudah membusuk, 65,55%. Sedangkan sampah lainnya adalah sampah tidak mudah membusuk yang didominasi oleh sampah kertas (10,57%) dan plastik (13,25%)

Oleh sebagian warga dan para kader lingkungan, sampah yang dihasilkan dipilah-pilah untuk kemudian dikomposkan dan dimanfaatkan menjadi kerajinan tangan. Residu sampahnya kemudian dibuang ke tempat sampah. Tempat sampah yang digunakan oleh warga cukup beragam seperti tong plastik, drum seng, bak yang disemen, ember plastik, dan kantong plastik.  Sebagian besar wadah sampah yang dipakai berupa drum dan tong plastik karena gampang dipindah-pindah dan tidak permanen sesuai dengan lingkungan jalan yang sebagian besar berupa gang yang tidak terlalu lebar dan tanpa trotoar. Wadah sampah dan komposter diletakkan di depan rumah atau di pinggir-pinggir jalan masuk.

2.2. Pengelolaan Sampah Mandiri

Salah satu RT yang paling menonjol dalam pengelolaan sampahnya adalah RT 04 dan RT 08 RW 01. Kegiatan penghijauan lingkungan di RT tersebut telah dimulai sejak tahun 2004 oleh ibu-ibu yang tergabung dalam dasa wisma. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila pada tahun 2004 juara 3 K3PK DKI Jakarta,tahun 2005 menjadi juara 2 Lomba Penghijauan tingkat DKI Jakarta. Selanjutnya pada tahun 2006, kegiatan penghijauan dan pengelolaan kebersihan mendapatkan penghargaan dalam lomba “Green and Clean 2006” yang diadakan oleh Yayasan Uli Peduli. Tahun 2007 juara 3 pertanaman DKI, 2007 juara 1 taman rumah tingkat walikota,tahun 2007, juara 1 lingkungan (KALPATARU) tingkat DKI Jakarta.

Dari hasil studi diketahui bahwa sebanyak 53% kader lingkungan telah melakukan pemilahan sampah dan pengomposan sampah setiap hari, sedangkan sebagian lainnya melakukannya 2 – 3 hari sekali. Sebanyak 89% kader lingkungan yang tidak mengomposkan setiap hari beralasan karena jumlah sampah mudah membusuk sedikit. Sedangkan lainnya beralasan sibuk.

Sampah mudah membusuk yang dikomposkan antara lain berupa daun-daun pohon, sampah tanaman hias, kulit buah, sisa potongan sayur sebelum dimasak, dan sisa makanan. Jenis sampah yang dominan dikomposkan berupa sampah daun, kulit buah dan potongan sayuran.

Jika dilihat dari jumlah sampah yang dikomposkan, maka jumlah jumlah sampah yang dikomposkan di RW 01 juga semakin meningkat. Pada saat sebelum    pilot project     berjalan, sampah yang dikomposkan diperkirakan hanya 624 liter per bulan, tetapi setelah    pilot project     berjalan sampah yang dikomposkan menjadi 984 liter per bulan. Sejalan dengan peningkatan jumlah pengomposan, jumlah produk kompos juga diperkirakan meningkat dari 156 liter menjadi 246 liter perbulannya.

Pengelolaan sampah tidak mudah membusuk juga tidak kalah pentingnya dengan pengomposan. Sebanyak 42% kader lingkungan menyatakan telah memanfaatkannya kembali sampah plastik antara lain untuk pot dan kerajinan tangan. Sedangkan sebanyak 21% mengumpulkan dan memberikannya kepada pemulung. Namun ternyata masih ada kader lingkungan (sebanyak 10%) yang belum memanfaatkannya dan sampah tidak mudah membusuknya langsung dibuang ke tempat sampah sebagaimana residu sampah lainnya.

Sampah plastik yang dijadikan pot umumnya adalah botol/gelas air mineral dan kaleng plastik cat. Sedangkan sampah plastik yang biasanya dibuat kerajinan adalah plastik-plastik kemasan yang tebal dan berpenampilan bagus.

Salah seorang kader lingkungan dari RT 08 RW 02 Hendrik telah memanfaatkan secara khusus kaleng plastik cat untuk bahan baku komposter yang dipesan oleh Yayasan Uli Peduli untuk disebarkan di berbagai tempat di Jakarta. Kaleng cat tersebut didesain sedemikian rupa dan dicat warna-warni sehingga penampilannya menarik.

Sementara itu, kader lingkungan dari RT 08 RW 02 Tri Darmayanti telah mendapatkan pelatihan khusus pembuatan kerajinan tangan berbahan baku plastik kemasan dari Yayasan Uli Peduli. Produk kerajinan tersebut berupa tas, dompet, tempat tisu, taplak meja, karpet, dan sebagainya. Ibu Tri mendapatkan pula bantuan mesin jahit dari Yayasan Uli Peduli. Produk-produk kerajinan tersebut dijual di beberapa pusat-pusat pertokoan di Jakarta.

3. Persepsi Masyarakat terhadap Masalah pengelolaan Sampah

    Ditinjau dari gambaran fisik lingkungan permukiman yang bersih (tidak ada onggokan sampah di lingkungan permukiman padat, dan tidak ada sampah berserakan), serta di sejumlah lokasi terlihat adanya upaya penghijauan, maka dapat diasumsikan bahwa perilaku kebersihan warga secara umum cukup baik. Partisipasi warga dalam program kebersihan dan penghijauan yang dimotori oleh PKK juga cukup tinggi. Memperhatikan beberapa gejala positif di atas, maka sesungguhnya persepsi warga terhadap sistem pengelolaan sampah yang ada saat ini positif. Upaya peningkatan dalam mekanisme pengelolaan sampah memang diinginkan oleh warga.

Persepsi masyarakat terhadap TPS 3R Rawasari

    Persepsi terhadap TPS 3R Rawasari secara umum bersifat positif. Persepsi positif ini, tidak terlepas dari sejumlah gambaran kondisi fisik yang berkait dengan fasilitas kebersihan tersebut. Beberapa kondisi fisik yang mendukung persepsi di atas antara lain adalah: pertama, relatif tidak terdapat polusi udara (bau) yang dapat digolongkan sangat mengganggu. Kedua, tidak menimbulkan bunyi yang menyebabkan kebisingan untuk warga sekitar. Diakui sejumlah informan bahwa kadang-kadang tercium bau sampah. Ternyata setelah ditelusuri hal itu di sebabkan oleh bau dari TPS Indoor (Dipo). Ketiga,  kegiatan operasional TPS berlangsung bersih. Hasil pengamatan lapangan menunjukkan tidak terdapat ceceran sampah atau limbah sampah (lindi) di sepanjang akses masuk ke TPS. Keempat, akses jalan menuju dan ke luar fasilitas TPS 3R Rawasari sangat baik. Dengan akses seperti ini, gerobak-gerobak pengangkut sampah dapat melaju dengan lancar menuju fasilitas TPS. Demikian pula akses dari TPS untuk menuju ke dipo sangat baik Kelima, sekeliling fasilitas TPS dipagari dengan jalur hijau sehingga dapat menyerap polusi udara baik yang bersifat kebisingan maupun bau.

    Keluhan terhadap TPS 3R Rawasari memang pernah terjadi di masa lalu, khususnya di awal masa beroperasinya TPS 3R. Keluhan masyarakat berkait dengan limpasan air limbah  sampah dan bunyi mesin yang menggangu lingkungan sekitar. Limpasan air lindi di masa awal operasi disebabkan oleh belum berfungsinya saluran pembuang. Setelah saluran pembuang diperbaiki maka tidak ada lagi keluhan yang disampaikan masyarakat.