Penyelundupan Limbah Hantui Asia Afrika

Penyelundupan Limbah Hantui Asia Afrika
Penulis : Kris R Mada | Jumat, 25 Januari 2013 | 11:29 WIB
KOMPAS/IWAN SETIYAWAN
Kontainer Tercemar Limbah B3 – Petugas dari Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Tanjung Priok memeriksa 19 kontainer berisi besi tua yang tercemar limbah bahan beracun dan berbahaya (B3) di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (30/4/2012). Kontainer ini bagian dari 220 kontainer asal berbagai negara yang isinya dideteksi mengandung limbah B3 dan kini akan dimintakan penetapan penyitaan ke Pengadilan Negeri Jakarta Utara.
PATTAYA, KOMPAS.com- Penyelundupan limbah elektronik menghantui negara-negara di Asia dan Afrika. Penegak hukum harus lebih tegas mencegah limbah masuk ke wilayah kerja mereka.

Direktur Program Lingkungan Hidup PBB (UNEP) wilayah Asia Pasifik, Park Young Woo, mengatakan, setiap tahun dihasilkan 15 juta ton sampah elektronik. Hanya 10 persen di daur ulang atau digunakan lagi.

“Sebagian tidak jelas ke mana dan diduga dipindahkan negara-negara berkembang atau miskin di Asia dan Afrika,” ujarnya di sela dialog dan Tur jurnalis Asia tentang Penanganan Limbah Elektronik yang diselenggarakan Fuji Xerox, Jumat (25/1/2013) di Pattaya, Thailand, seperti dilaporkan wartawan Kompas Kris Razianto Mada.

Mayoritas perpindahan limbah dilakukan secara ilegal. Sebab, konvensi Basel mengatur ketat proses pemindahan limbah elektronik yang sebagian beracun dan berbahaya. Limbah hanya boleh dipindahkan ke negara lain bila ada kepastian di mana dan oleh siapa akan diolah.

“Namun, tidak semua negara mampu mencegah penyelundupan limbah. Banyak dugaan limbah bisa masuk karena dokumen palsu atau keterangan yang tidak sebenarnya,” tuturnya.

Karena itu, UNEP mendorong penegak hukum di setiap negara lebih proaktif mencegah penyelundupan limbah. Bea cukai dan penjaga laut adalah garda depan mencegah penyelundupan. “Mereka di pintu masuk barang-barang di luar negeri,” ujarnya.

Namun diakui, tidak semua negara mampu mencegah penyelundupan. Kekurangan sumber daya membuat pengawasan perbatasan tidak optimal. Akibatnya, limbah tetap masuk ke suatu negara.

Indonesia salah satu negara yang rentan menjadi sasaran penyelundupan limbah. Tahun lalu, ratusan peti kemas berisi limbah bahan beracun dan berbahaya (B3) ditegah di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Semua masuk dengan dokumen yang tidak benar.

Di berbagai pelabuhan lain, juga tercatat kasus sejenis. Bahkan, sebagian lolos dari pelabuhan dan ditimbun tanpa pengolahan. Akibatnya, lingkungan di sekitar penimbunan terancam polusi B3.
Kris R Mada

Dapatkan artikel ini di URL:
http://sains.kompas.com/read/2013/01/25/1129276/Penyelundupan.Limbah.Hantui.Asia.Afrika?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp